SEBENARNYA “TRAINING” ITU MENANGANI APA?

Berdasarkan Dr. Leonard Nadler, Training didefinisikan sebagai:

“Training is learning that is provided in order to improve performance on the present job.”

kata kunci di sana adalah performance (Kinerja). Kata Training memang akan selalu nyambung dengan Kinerja. Sebuah Training ada dengan maksud agar Kinerja di tempat kerja dan kehidupan meningkat. Simple, namun tak sesederhana itu.

Kinerja (Performance) adalah perpaduan antara peningkatan Kompetensi (Competency) dan lahirnya Perilaku (Behavior). Peningkatan Kompetensi dimaksudkan untuk mendukung hadirnya Perilaku baru, sehingga dengan Perilaku baru itu Kinerja pun meningkat.

Pertanyaannya, peningkatan Kompetensi seperti apa yang perlu dihasilkan sebuah Training? karena tak jarang Training berlangsung, Kompetensi meningkat, tapi Kinerja tak berubah.

Maka Trainer perlu mengecek Perilaku apa yang dibutuhkan peserta training dalam kerja sehari-hari di lapangan untuk menghasilkan Kinerja yang baik. Hal ini dapat diketahui dengan mengecek masalah dan tantangan apa yang dialami riil oleh mereka.

Sebut saja seorang Supervisor dianggap berkinerja baik jika pekerjaan lapangan yang dipimpinnya selesai tepat waktu dengan standard minimal tertentu. Itu tuntutan Kinerjanya. Untuk dapat mencapai Kinerja itu, Perilaku apa yang perlu dimiliki? ini kontekstual banget.

Bisa jadi sang Supervisor tidak mampu berkomunikasi dengan efektif dalam mendelegasikan tugas sehingga terjadi kesalahpahaman di kalangan pekerjanya.

Bisa jadi karena sang Supervisor enggan menyuruh bawahannya dikarenakan usia bawahan lebih tua, sehingga sungkan. Akibatnya malah dikerjakan semua sendiri. Hasilnya bagus tapi jadi terlambat.

Bisa jadi juga sang Supervisor sudah mendelegasikan dengan baik namun lemah dalam melakukan kontrol.

Tiga kasus itu, masing-masing butuh Perilaku baru berbeda-beda.

Yang pertama Perilaku yang dibutuhkan adalah “Menyampaikan informasi delegasi dengan bahasa mudah dipahami”.

Kasus kedua, butuh Perilaku, “Berani bersikap tegas pada bawahan yang lebih senior dan membangun komunikasi asertif”.

Ketiga beda lagi, butuh Perilaku baru “Disiplin dalam kontrol pekerjaan bawahan”.

Berarti masing-masing membutuhkan peningkatan Kompetensi berbeda-beda. Otomatis Desain Trainingnya juga berbeda.

Belum lagi jika ternyata problemnya bukan sekedar lemah dalam melakukan kontrol, tapi itu hanya gejala yang berakar pada lemahnya manajemen diri dan manajemen waktu, bisa beda lagi Kompetensi yang dibutuhkan. Desain Trainingnya beda lagi.

Inilah salah satu hal kenapa Training bisa Gagal memenuhi tugasnya. Trainer kadang terlalu cepat menyimpulkan bahwa, “Mereka butuh Training ini!” tanpa mengecek dahulu seperti apa permasalahan peserta di lapangan. Lebih gawat lagi, Trainer kemana-mana sudah membawa modul training baku yang dianggap bisa menyelesaikan segala permasalahan.

Hanya itu saja yang menyebabkan Training Gagal?

Sebenarnya masih banyak lagi. Secara garis besar jika disarikan, ada 7 hal yang paling sering dilakukan Trainer dan malah menyebabkan Training mengalami ke-Gagal-an.

Semoga sedikit informasi ini bisa bermanfaat bagi rekan semuanya.

#WhyTrainingFails #BukuTraining #LearningDesign #LearningDesigner #Training #Learning
———————————————–
Ditulis oleh:
SURYA KRESNANDA
Professional Learning Designer
Penulis Buku “WHY TRAINING FAILS? AND WHAT TO DO ABOUT IT”

LDPT Class BATCH 9 JAKARTA
Rabu – Kamis
01 dan 02 Agustus 2018
Yello Hotel Jakarta

Pendaftaran:

Learning Design

📱0811 1114 504
📱0811 1144 500
☎ 021 22 792 892
📧 admin@UE-Training.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *